yeeeeeeee…. BLOGKU BISA DIBUKA LAGI.,. TERIMA KASIH WORDPRESS :D :D :D

•November 25, 2009 • 1 Komentar

siapa capres favorit?

•Januari 21, 2009 • & Komentar

sprint2009

Tokoh-tokoh politik kian bermanuver. Dari yang sudah uzur—alias membosankan—hingga yang masih kinyis-kinyis, siap beradu dalam perlombaan pemilihan presiden 2009 besok.
Siapa yang menang?
Tentu siapa yang kuat. Bukan hanya kuat mental—karena bakal menghadapi tekanan politik bahkan intimidasi, tetapi harus kuat modal juga. Nah, kita tinggal menyimak, dan tentu harus cerdas politik untuk memilih siapa pemimpin bangsa Indonesia kita yang tercinta ini.
Merdeka!!! –arya wanda wirayuda

BUNG HATTA (1957): MINYAK DAN AIR TIDAK BISA BERCAMPUR

•Februari 1, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oil and Water Do Not Mix (1957)
By Hatta

This excerpt comes from “Assessing Bung Karrno’s Conception,” an
article comnunting on the President’s Conception speech of February 21, I957 (fig),
which was published as a supplement to the Djakarta
Daily Indonesia Baja, of March 5, 1957.

When we come to examine Bung Karno’s conception of a Gotong Rojong Cabinet, we are faced with an idea which is intrinsically good and idealistic but in practice cannot be put into effect. It could only be put into effect if all parties represented in parliament shared a common goal and if their political differences concerned only how this goal was to be attained.
But it is this common goal which is lacking. Especially as between the PKI on the one hand and the religious parties and some nationalist groups on the other, there is a difference of ideology and goals which is very fundamental, so that it is difficult to bring these two together in a Gotong Ro/ong Cabinet. We can leave for the moment the question of how portfolios would be divided between these mutually suspicious groups.bunghatta
Some will concede that there are indeed differences of principle between the PKI and the religious and nationalist parties as regards their ideology and view of life but go on to ask whether there are also such differences as regards goals. Yes, as regards goals, too, there are differences of principle! The aim of the religious and nationalist parties is the building-up of one national state, an Indonesian nation which will be just and prosperous. The PKI is basically part of an international movement which aims at world revolution. Its means of realizing this is by setting up proletarian dictatorships everywhere.
From time to time the Communists are allowed to adapt their tactics to accord with a particular situation, but fundamentally their struggle may not deviate from the principles laid down by Lenin which are known as democratic centralism. This means absolute obedience to the leader, and no right to disagree, in the interests of the whole. And this leader is, for Communists all over the world, Moscow.
For a Communist, the Soviet Union is the capital with which all his ideals can be realized, for the Communist struggle stands or falls by the success of the Soviet Union.
Because Soviet Russia is the pioneer of the realization of his ideals, the Communist puts the interests of its international political struggle first. In order to strengthen the position of the Soviet Union, he will, if necessary, sacrifice all other interests, including those of his own country’s freedom. This has been shown by the history of the last thirty years. As they see it, once Russia has achieved victory in its struggle against imperialism, the freedom of other countries will come of its own accord.
Absolute obedience to the leadership of Moscow is a fundamental law of life for a Communist. It is the foundation of the Communist movement’s strength. A person cannot be a real Communist unless he understands and can adapt himself to this iron discipline. So an Indonesian government in which Communists are participants can not carry out an independent foreign policy. Whatever his personal feelings may be, a Communist will be betraying his ideals if he does not put the interests of the Soviet Union first, even where these conflict with the interest of his own country.
Because of this, Bung Karno’s efforts to bring the PKI and the religious and nationalist parties together in a cabinet must fail. It is like trying to mix oil and water. There are, indeed, some among us, opportunists, who hope that the PKI can be made into a Titoist communist movement and argue that this could be done by bringing it into the cabinet to participate in carrying out national policies, including our independent and active foreign policy.
That possibility is not reasonable! The PKI will continue to take Moscow as its guide, will continue to hold fast to the fundamentals of Leninism and Stalinism. Quite apart from considerations of ideology, there is no advantage for the PKI in becoming a Titoist communist organization, a body standing by itself and competing with other parties, without any ties to international communism. This would only weaken it. The possibility does not exist, especially in view of Moscow’s present position of returning to the centralist principles of Stalin.
Bung Karno is afraid that a movement such as the PKI, which obtained six million votes in the recent elections, cannot just be left to be in the opposition. Quite apart from the question of what value one places on those six million votes, what are we to do if the groups which obtained more than three times as many votes as the PKI are unwilling to accept the PKI? To force them to accept it would sharpen the conflict and take us further away from our ideals of national peace and national unity.
But what is wrong with the PKI’s sitting in parliament as an opposition party? A good democratic government consists of government and opposition. The government acts and the opposition acts as a check on it. If the PKI acts as a good and firm opposition in parliament and does not merely obstruct and make trouble, it can influence the course of government and turn it in a favorable direction. It can prevent corruption in the government parties and so help to raise the present low level of political morality. In this way the goverment parties will be forced to give proper attention to the improvement of the lot of the common people.
Only a good and responsible opposition, one with a sense of ressponsibility for the welfare of the government and the people can contribute to the healthy development of democracy, which is parently struggling to survive.

Akhirnya Indonesia Punya Atlas Nasional Resmi

•Februari 9, 2009 • 1 Komentar

Kompas, 5 Februari 2009

JAKARTA, KAMIS – Setelah enam dasawarsa semenjak Indonesia merdeka akhirnya Indonesia memiliki Atlas Nasional yang mengandung informasi resmi tentang Indonesia untuk pertama kalinya.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), R.W. Matindas, sebelumnya Indonesia hanya memiliki Atlas Hindia Belanda yang merupakan hasil peninggalan dari masa pemerintah kolonial Belanda yang dibuat pada tahun 1938. Hal tersebut disampaikannya ketika membuka acara peluncuran atlas nasional Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta (5/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan, atlas nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai media promosi tentang Indonesia dan media pembelajaran. “Nantinya kita akan meluncurkan dua jenis atlas nasional ini.Selain kita akan meluncurkan dalam bentuk buku tercetak, kita juga akan meluncurkannya dalam bentuk web Atlas Nasional Indonesia yang dapat diakses melalui internet untuk mempermudah akses sehingga manfaat atlas ini sebagai media promosi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik” jelas Matindas.

Atlas nasional ini nantinya akan terdiri dari tiga volume. “Kita bersama-sama dengan pihak-pihak yang terkait lainnya akan merampungkan dua volume lagi yang belum selesai.Mudah-mudahan kita akan menyelesaikannya pada tahun 2010 nanti,” ujar Matindas.

Atlas nasional ini dapat diperoleh publik melalui Pusat Jasa dan Informasi Bakosurtanal.

Dengan Unicef

•Februari 11, 2009 • 1 Komentar

p1010066Pengalaman menyenangkan ketika penulis bertemu dengan Mr. Stuart Weston dari UNCIEF dan World Bank di Universitas Muhammadiyah Malang. Kami berbincang-bincang seputar pendidikan, krisis ekonomi global, guyonan tentang karakter masing-masing negara dan sebagainya.
Satu hal, tinggi badanku ternyata lebih daripadanya.
:D

Berbangsa Bukan Sekedar Belajar

•Februari 27, 2009 • & Komentar

Oleh Arya Wanda Wirayuda

“Yang kini melumpuhkan aktivisme bukan semprotan gas air mata Brimob, tapi semprotan parfum Paris.” (Ariel Heryanto dalam Lifestyle Ecstasy, 2005)

Barangkali kalimat itu tepat menggambarkan sebagian besar aktivitas mahasiswa pasca reformasi. Tidak ada lagi cemoohan rutin terhadap kebijakan negara yang salah, hingga minimya peminat untuk berdiskusi tentang kesusahan masyarakat. Shopping ke mall, dugem, menjadi pecandu seks bebas dan narkoba, adalah perilaku yang sudah dianggap halal bagi sebagian mahasiswa. Jika sudah demikian, tulang punggung masa depan bangsa terancam mengalami kerapuhan.
Mahasiswa termasuk ke dalam golongan sosial yang memiliki potensi melakukan perubahan-perubahan fundamental di dalam kehidupan berbangsa. Sebab, ilmu pengetahuan yang didapatkan di bangku kuliah, merupakan bekal utama merumuskan strategi perubahan. Seseorang yang belajar di perguruan tinggi disebut sebagai mahasiswa. Maha berarti besar, sedangkan siswa diasosiasikan sebagai pelajar yang tercatat dalam institusi pendidikan formal.
Dalam sejarah, bentukan istilah ini bermula ketika masyarakat menempatkan secara sosial kedudukan mahasiswa lebih tinggi daripada hanya sekedar siswa. Dengan begitu, mereka dianggap dan tentunya juga dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih, supaya dapat membantu kesulitan-kesulitan masyarakat. Sayang, kenyataannya cita-cita mulia tersebut hampir berada di ujung tanduk, lantaran hampir sebagian besar mahasiswa menjadi penganut aliran konsumerisme dan pragmatisme.
Mahasiswa kerap mempersepsikan kampus sebagai batu loncatan untuk meraih kesejahteraan dan kekayaan. Masuk ke perguruan tinggi ternama, mendapat nilai bagus dan lulus cepat, supaya segera mendapat pekerjaan adalah impian. Tidak heran, cara-cara instan untuk berproses menjadi mahasiswa, adalah prilaku jauh dari yang diharapkan. Bersenang-senang dengan keegoisan pribadi; mendapat nilai “A” meski diperoleh dari belajar hasil foto kopi catatan teman; membebek dengan penjelasan dosen tanpa mau “bersubversif” ria dengan membaca buku, menjadi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.
Sejenak jika kita mengintip bagaimana dunia organisasi mahasiswa kini juga jauh dari harapan. Banyak organisasi mahasiswa internal kampus cenderung gemar mengadakan berbagai kegiatan, namun justru menyeret aktivitas mahasiswa hanya mengedepankan kerapian teknis pelaksanaan. Kegiatan tersebut untuk kepentingan pengembangan diri. Dan, pengembangan diri hanya diorientasikan kepada kemampuan individu agar nantinya dapat “dijual” pada lembaga-lembaga penyedia lapangan pekerjaan. Akibatnya, perdebatan kritis soal bagaimana ikut terlibat memikirkan permasalahan bangsa dan negara, kerap dianggap tidak relevan. Proses penghayatan tentang makna hakiki pendidikan dan pengembangan, teredusir dengan gaya berpikir yang hanya didasarkan kegunaan praktis.
Begitupula dengan nasib organisasi pergerakan mahasiswa ekstra universitas yang tidak kalah dahsyat mengalami perubahan. Sarat kepentingan dan ikut andil dalam memperkuat suksesi kepemimpinan nasional adalah keniscayaan. Sayang, dengan bekal pengalaman puluhan tahun, sebagian organisasi pergerakan kini sudah “kegemukan”, sehingga kerap sulit bergerak progresif–revolusioner dan cenderung membebek pada kepentingan sesaat. Para alumni yang besar dan tersebar di berbagai bidang, baik di lembaga pemerintahan, profesional hingga swasta, menjadikan mereka tidak lagi kritis lantaran jaminan atas pekerjaan sudah di depan mata. Tidak jarang kader-kader organisasi pergerakan mahasiswa menjadi tumbal politik para alumninya. Kejadian seperti ini juga belum menghitung berapa banyak jumlah kader yang keranjingan mencari uang atau “proyekan”, dan enggan untuk berpikir dan membincangkan persoalan sosial berikut memperbarui konsep gerakan yang kurang efektif.
Coba bayangkan ketika Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka ketika masih menjadi pelajar atau mahasiswa. Tentu itu sangat berbeda dengan semangat generasi mahasiswa masa kini yang sarat dengan budaya konsumerisme dan pragmatisme. Rela melanglang buana tanpa kemakmuran dan kenyamanan adalah pilihan bagi para asketis-revolusioner untuk memperjuangkan bangsa dari ketertindasan. Atau gagasan Mohammad Yunus dari Bangladesh, penerima nobel perdamaian tahun 2006. Meski sejak mahasiswa dididik dengan pandangan kapitalisme, tetapi berhasil menelurkan gagasan merubah persepsi dunia bahwa nafsu menumpuk kekayaan sebenarnya dapat pula mengangkat kemiskinan masyarakat.
Setiap orang bebas mencari bentuk keteladanan. Figur-figur diatas adalah pilihan. Namun pilihan atas keteladanan yang relevan dengan kebutuhan adalah hal yang utama. Kebutuhan bukan hanya beradasar nilai-nilai kegunaan praktis, tetapi juga beradasarkan nilai-nilai kebenaran. Disinilah letak dimana kebenaran wajib dilaksanakan setiap orang, tidak terkecuali mahasiswa. Jika sudah diberi label “maha” (besar) maka semestinya juga mempunyai kesadaran ber-“dharma” (kewajiban) yang besar pula.

Maha dan dharma
Kewajiban dirumuskan berdasarkan nilai kebenaran. Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan adalah firman bagi kewajiban. Meski tidak ada lagi desingan peluru penjajah sekaligus gerakan kapitalisme semakin lincah mempermainkan peristiwa, maka apapun bentuknya selayaknya kita sadar bahwa segala yang diperbuat musti harus menjunjung tinggi hakikat kebenaran terhadap kemanusiaan. Dengan begitu, nilai-nilai kemanusiaan bukan hanya berlaku untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang tua dan masyarakat, dengan berupaya me-up to date kualitas tanpa menindas atau bahkan memberikan ruang orang lain terperosok ke dalam jurang kesengsaraan.
Berorganisasi dan mendapat pendidikan yang lebih baik, perlu mendapat pondasi berpikir tentang nilai kebenaran terhadap kemanusiaan. Disinilah letak pragmatisme intelektual semestinya tidak jadi pertimbangan utama, karena hanya memicu terjadinya penindasan dan memperparah krisis solidaritas. Dalam memandang pragmatisme, Jacques Maritain dalam bukunya Pendidikan Berada di Simpang Jalan (1943) mengingatkan “Adalah sebuah penghinaan mendefinisikan pemikiran manusia sebagai sebuah organ untuk menjawab berbagai macam rangsangan atas situasi lingkungan nyata. Terminologi seperti ini hanya tepat untuk menggambarkan pengetahuan dan reaksi binatang, sehingga berpikir secara persis dengan definisi ini mengukuhkan cara berpikir khas untuk binatang tanpa rasio”.
Konsumerisme dan pragmatisme yang melanda mahasiswa sungguh tidak relevan di tengah masyarakat yang menanti sumbang sih mereka untuk membantunya bangkit dari kemiskinan. Sungguh ironis karena subsidi mahasiswa berasal dari pajak rakyat yang bercucuran keringat membanting tulang, ternyata hanya digunakan berleha-leha. Karena itu, sudah seharusnya segala yang dienyam di bangku kuliah memiliki kontribusi pada masyarakat. Disinilah letak dimana rasa keadilan dan kemanusiaan mahasiswa diuji kesediaannya berbagi dengan realitas sosial.
Di samping itu, sudah sepantasnya kita mendeklarasikan diri bahwa berfoya-foya adalah haram hukumnya. Belajar untuk kepentingan diri sendiri adalah tindakan yang patut dicela semua orang. Perubahan terhadap diri sendiri seperti ini lebih penting, baru kemudian berbicara tentang mahasiswa sebagai agen perubahan (agen of change) dan kekuatan moral (moral force) bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika masih sadar berbangsa, sebagai mahasiswa bukanlah sekedar belajar dan bersenang-senang. Berbangsa adalah sikap kepedulian kita terhadap satu sama lain. Semoga di kemudian hari yang suka membaca buku, berorganisasi, bermain musik, mendapat nilai “A” dan lulus cum laude, tidak hanya berharap untuk menumpuk kebahagiaan pribadi semata namun juga demi perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara agar lebih baik. “Tidak harus kaya, cukup sederhana” seru Frans Magnis Suseno (2007), mengingatkan kita bagaimana pentingnya rasa empati terhadap orang lain. Bagaimana dengan kita sebagai mahasiswa?
dimuat di Tabloid “Stanza” waktu masih mahasiswa

spirit carries on

•Maret 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lirik dan Lagu ini yang paling aku suka..
by John Petrucci (song writer and Guitarist of Dream Theater)

Where did we come from? | Why are we here? | Where do we go when we die? | What lies beyond | And what lay before? | Is anything certain in life? |

They say, life is too short, | The here and the now | And youre only given one shot | But could there be more, | Have I lived before, | Or could this be all that weve got? |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

I used to be frightened of dying | I used to think death was the end | But that was before | Im not scared anymore | I know that my soul will transcend |

I may never find all the answers | I may never understand why | I may never prove | What I know to be true | But I know that I still have to try |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

Move on, be brave | Dont weep at my grave | Because I am no longer here | But please never let | Your memory of me disappear |

Safe in the light that surrounds me | Free of the fear and the pain | My questioning mind | Has helped me to find | The meaning in my life again | Victorias real | I finally feel | At peace with the girl in my dreams | And now that Im here | Its perfectly clear | I found out what all of this means |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

Abu Nawas dalam Lailatul Qadar

•Maret 3, 2009 • & Komentar

abu-nawasHampir semua orang mengenal nama Abu Nawas. Namun di negeri kita, sosok ini telanjur dianggap sebagai pelawak. Mungkin akibat pengaruh buku “Hikayat Abu Nawas” saduran Nur Sutan Iskandar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi bacaan wajib murid-murid sekolah sejak tahun 1930-an hingga 1950-an.
Salah satu taman kota, “Taman Abu Nawas” di Baghdad Irak dihiasi monumen dinding dengan relief cerita Abu Nawas yang hidup merakyat dan berperilaku lucu. Monumen sejenis dengan tema cerita Abu Nawas banyak dijumpai di taman-taman kota di Baghdad dan kota lainnya diIrak
Padahal Abu Nawas (nama sebenarnya Abu Hani Muhammad bin Hakami, lahir di Ahwaz, Persia, tahun 735, dan meninggal di Bagdhad, tahun 810) adalah seorang sastrawan besar dalam khazanah sastra Arab abad Pertengahan. Bahkan sastrawan terbesar pada zaman kekuasaan Sultan Harun al Rasyid al Abassi, yang menjadi khalifah Dinasti Abasiyah tahun 786-809.
Memang, karena kepiawaiannya di bidang bahasa dan sastra Arab, Abu Nawas banyak menggubah sajak-sajak bercorak lelucon dan senda-gurau (mujuniyat). Ia juga sangat ahli merangkai syair tentang cinta dan kecantikan wanita (gazal), pujian terhadap seseorang (madah), bahkan sindiran halus namun tajam (hija). Dalam keadaan mabuk minum alkohol, sambil meracau tak karuan, ia menggubah puisi-puisi yang membangga-banggakan minuman keras, yang disebut puisi khumrayat.
Karena kelakuannya yang urakan, tak bermoral, bahkan kemungkina atheis, Abu Nawas tidak disukai kalangan agamawan dan yang menjunjung tinggi ahlak kesopanan.
Namun menjelang usia tua, ia berubah total. Menjadi tekun beribadah, rendah hati (tawadlu) dan jarang berbicara. Dari beberapa anekdot yang dihimpun para pengamat puisi Abu Nawas, terungkap, kesadaran Abu Nawas tergugah pada suatu malam ‘Qadar’ (Lai¬latulqadar). Ko¬non, ketika dalam keadaan ‘teler’, Abu Nawas didatangi seseorang tak dikenal, yang berkata : “Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikkan, yang merusak hidangan itu.
Sejak peristiwa ‘Malam Qadar’ itu, Abu Nawas mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biar tak jadi apa-apa, asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
Salah satu puisi karya terakhir Abu Nawas, sebuah puisi religius yang di negeri kita kerap dijadikan ‘pujian’ menjelang salat. Ilahi, lastulil firdausi ‘ala . Wa la aqwa alan naril jahimi. Fahabli taubatan waghfir dzunubi. Fainnaka ghafiru dzanbil adzimi (Ya Allah, tak pantas buatku surga. Tapi neraka, tak kuat aku akan siksanya. Maka atas segala dosa aku bertaubat. Karena ampunanmu lebih hebat).
Puisi-puisi Abu Nawas bersama kisah hidupnya, ditulis antara lain oleh Mustafa Abdur Razak, dalam buku Abu Nawas, Hayatuhu wa Sya’iruhu (1981). Dikenal dan digemari di dunia Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh A von Kremer: Diwan des Abu Nuwas Grossten Lyrischen Dichters der Araber (1806).
Matan, 2009