Eros dan Tanatos

Sigmund Freud pernah berpendapat tiap manusia mempunyai insting ganda yang bertolak belakang; eros dan tanatos. Eros untuk rasa cinta, mengasihi, toleransi, keterpanggilan terhadap kepedulian seseorang, dan sebagainya. Sebaliknya, insting tanatos bersifat agresif, destruktif, dan melahirkan sikap membenci serta tindak kekerasan berupa pembunuhan.
Kedua insting ini munculnya terkadang sulit ditebak. Kita sering melihat cara remaja berpacaran: saling membelai, mencumbu, bahkan berhubungan intim yang katanya demi ekspresi cinta. Sementara suatu ketika, remaja laki-laki memukul, menjambak bahkan menendang pacarnya itu, yang katanya juga untuk ekspresi kasih sayang. Alias untuk meluruskan perbuatan sang hawa. Benarkah? Ah omong kosong. Terlepas perbuatan ini tergolong melanggar hukum, kita juga akan lihat banyak pengakuan beragam dari mereka.
Ada yang pernah bersaksi menyesal atas perbuatan tersebut. Ada yang mengaku jika perbuatan tersebut khilaf. Ada yang memang disengaja. Untuk yang terakhir, menurut budayawan Jacob Sumardjo dalam Menjadi Manusia mengatakan disinilah insting tanatos mencari sublimasi ke dalam media-media tertentu.
Masih menurut Jacob Sumardjo, karena itu sejumlah olah raga yang menampilkan kekerasan bakal tidak akan sepi dari ‘pengikut’. Karena disinilah insting tanatos ‘dipelihara’.
Waspadalah ketika insting ini keluar begitu saja!!! (18/01/2009).

~ oleh arya wirayuda pada Januari 18, 2009.

Satu Tanggapan to “Eros dan Tanatos”

  1. frend gmn agar qta tdk gaptek???

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.