Kota dan Komunitas Punk
Banyak orang salah kaprah menilai komunitas punk adalah borok masyarakat. Dandanan lusuh, bentuk rambut mohawk, jas dan dasi yang dikenakan saat konser-konser musik dan berkumpul, dan bentuk-bentuk busana konfrontatif lainnya pada mereka seringkali dianggap sebagai perusak tatanan nilai-nilai.
Padahal, sejarah mencatat dibalik penampilan yang tidak lazim tersebut tersembunyi semangat dan harapan yang besar. Di negara asalnya, Inggris, Amerika, dan negara-negara Eropa lainnya, pada tahun 1970-an bentuk rambut mohawk yang biasa menjadi style mereka adalah adopsi dari penampilan bangsa Indian, bangsa yang tertindas akibat kolonialisasi. Sedangkan pemakaian jas dan dasi adalah simbol protes kepada para kapitalis dan birokrat yang seringkali diberi label suci dan terhormat.
Di tahun 1990-an, keberadaan punkers (sebutan bagi komunitas punk) dapat dilihat di kota-kota besar semisal Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Malang dan Surabaya. Bahkan, di Sidoarjo Jawa Timur, yang notabene bukan termasuk kota besar, komunitas ini cukup mempunyai eksistensi. Anggotanya terdiri dari berbagai macam golongan, yakni dari pelajar, mahasiswa, sampai dengan para anjal (anak jalanan) dan pengamen. Namun khusus di Surabaya, beberapa anggota punk ada juga yang berasal dari bonek (bondo nekat), suporter klub Persebaya yang terkenal kekerasan dan kenekatannya.
Musti diakui, ketika masuk ke Indonesia gaya hidup ini memiliki terjemahan lain. Apalagi ketika berbaur dengan kebudayaan kota yang notabene tempat dimana arus informasi berkembang pesat. Hal ini pulalah yang menyebabkan kondisi ciri khas kebudayaan kota berubah. N. Daljoeni (1978) menekankan bahwa pendekatan aspek mental dalam proses perkembangan kota, orientasi nilai-nilai serta kebiasaan hidup penduduk kota, baik yang terdiri dari bagian partikel terkecil, sesungguhnya merupakan produk behavioral (perilaku) dari suatu sistem sosial budaya yang lebih besar.
Setidaknya ada dua budaya besar yang melatarinya yakni, pertama, modernisasi yang diikuti globalisasi. Tidak dapat disangkal, dalam era tersebut produktivitas manusia merupakan hal yang utama. Jika sudah demikian, dampaknya selain tertuju pada perkembangan teknologi dan informasi, juga berpengaruh pada tingkat mobilitas sosial yang tinggi. Dengan hubungan rasionalistik, impersonal dan berorientasi pada tujuan, pada gilirannya menimbulkan kondisi anomi (keadaan renggang dari norma-norma yang dianut masyarat), ketidakberdayaan dan keterasingan, baik di tingkatan hubungan keluarga ataupun masyarakat.
Kedua, berlangsungnya rezim otoritarianisme Orde Baru. Telah menjadi anggapan umum bahwa zaman ini merupakan puncak dari pemerintahan RI yang represif. Segala doktrin pandangan hidup (way of life) selalu diseragamkan. Akibatnya, terjadi penindasan yang membabi buta bagi jalan menuju humanisasi. Dengan demikian, lahirnya komunitas punk di Indonesia boleh jadi adalah refleksi dari dimensi sosiologis yang berkembang.
Semangat punk yang mengkampanyekan kesetaraan dan solidaritas terhadap subjek-subjek yang tertindas seperti di negara asalnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda yang mulai mengkristal. Pada gilirannya, mereka pun memproklamirkan diri sebagai anak Punk. Ketika strata ini terbentuk, sudah barang tentu simbol-simbol perlawanan mulai diciptakan.
Menggelandang, cangkruk (berkumpul), body pearcing yang mengerikan, hingga memungut makanan dari sampah sebagai simbol anti kemapanan, seringkali dianggap sebagai perilaku yang menyimpang. Dalam kerangka filosofi punk, hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas). Karena caranya yang unik dalam menunjukkan identitas, maka benturan dengan pemerintah dan norma-norma masyarakat tak pelak sering terjadi. Terlihat, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali anak-anak punk di Sidoarjo digaruk pemerintah lantaran menggelandang di persimpangan jalan dan di tempat-tempat umum lain. Bahkan sudah tidak terhitung lagi bagaimana ketidakharmonisan mereka di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat lantaran dianggap aneh.
Kini simbol-simbol tersebut menjadi fashion yang ditunggangi kapitalisme. Dikemas dalam bentuk yang lebih menarik, dramatis dan membumi, tak heran proses peniruan gaya hidup ini menjamur sedemikian rupa. Bahkan tidak jarang saat ini terjadi “modifikasi” gaya hidup Punk yang “terdistribusi” dan tak lagi terlihat ekstrem. Menjamurnya distro, toko kecil yang menjual aksesoris Punk, adalah salah satu wujudnya. Seiring dengan itu, semangat perlawanan dan membuat perubahan pun luntur lantaran tergerus dengan budaya konsumerisme dan hedonisme.
Berbeda dengan penyebutan punk di negara asalnya yang merujuk pada bahasa slang untuk menyebut penjahat dan perusak, pola “gerakan” punk Indonesia yang dinamis dalam mengisi perkembangan musik, gaya menari, style, olahraga (skate boarding), graffiti maupun bidang-bidang yang lain, telah menginspirasikan istilah ini diplesetkan menjadi Pemuda Urakan Namun Kreatif (PUNK) sejak awal tahun 2000.
Namun kini, aksesoris Punk tak lebih hanya sebuah gaya hidup. “Ideologisasi” ini lazim terjadi di kota-kota. Yang lebih parah, hal itu berpotensi menyebarkan bentukan budaya baru (enkulturasi) secara massif mengingat kota selalu menjadi pusat perkembangan paradaban dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
Kepongahan cara berpikir anak muda sering terjebak pada peniruan belaka. Gaya hidup bangsa lain ditelan mentah-mentah sehingga melupakan esensi dari budaya bangsa. Sampai disini imperialisme kebudayaan mencapai puncaknya. Kalau dibiarkan, bisa jadi dalam beberapa tahun lagi generasi muda kita hanya menjadi robot kapitalisme dan kekuatan global.
Karena itu, patut menjadi bahan renungan bersama bagi pemerintah, para keluarga, guru dan kyai dalam menyikapi perubahan yang menyesatkan ini. Demi membina hubungan yang lebih intim dan menancapkan sense of value, komunikasi yang sehat perlu terus digalakkan di tengah kesibukan dan rutinitas.
Terobosan konkrit bisa diwujudkan dengan memasukkan pelajaran gaya hidup anak muda ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan begitu, diharapkan berbagai pengalaman masa lampau berikut semangat dan harapannya dapat memicu kesadaran kritis sebagai penyeimbang pelajaran identitas nasional, sehingga siswa diajak untuk menjawab pertanyaan substansial kenapa harus mengikuti gaya hidup tertentu.
Jika simbol perlawanan tanpa diikuti tindakan sosial atas perubahan, hal itu akan menjadi sia-sia belaka. Jarang berproduksi dan berinovasi dalam ilmu pengetahuan, teknologi, serta berpikir kritis-konstruktif terhadap realitas, bukan tidak mungkin kelak bangsa kita justru akan menjadi bangsa kuli bagi negara lain. Semoga saja tidak ..ARYA WANDA WIRAYUDA

suwun pak
jd gampang cari tugas uiyyyyyyy
PUNK bukan hanya gaya hidup ataupun cara berpakaian yang berbeda dari umumnya,,tetapi lebih tepat disebut sebagai attitude manusia dalam sebuah komunitas PUNK ataupun dalam bermasyarakat.
Aku rasa itu tak kn brasil klu hanya..memberikn pengetahuan..saja..sebab mrereka{punk}lahir kerena ada nya rasa ktidak kepercayaan terhadap pemerintah..yg tidak kunjung2 memberikan perubahan2 seperti yg mreka janjikan…oleh sbab itu saya anjurkan kpada pemerinth agar tidak hanya memikirkan politik/saling menjatuhkan lawan politiknya.pikirkan juga rakyatmu yg menginginkan perubahan..bukan janji2 palsu..yg semanis madu tp di sisi lain ada lebah yg siap menyengat kita
no coment
saya suka anak punk … !!!!!!!!!!!!
iya…
terima kasih komentnya
aku mau nulis tesis soal ini ada masukan teman2?
makasih pak udah di bahas.,.,,.,
tambah mudah buat tugas nya.,.,.
pung anti anarki…
bebas narkoba…
bebas hal kekerasan…?
PUNK adalah komunitas paling bagus d dunia………..
HIDUP PUNK.
NO ANARKY NO TAURAN