Tragedi Kemanusiaan Terkeji di Gaza

Matan, Februari 2009
Sekolah yang selama serangan Israel menjadi tempat berlindung itu hancur dan 40 anak di dalamnya tewas.
Dunia tercengang menyaksikan korban bergelimpangan dari kalangan sipil di Jalur Gaza, akibat serangan Israel. Negeri Yahudi itu seperti haus darah. Mirip strategi Amerika saat menginvansi Irak pada 2003 silam. Israel juga mengandalkan jurus mabuk, layaknya bermain PlayStation. Untuk menghabisi bangsa Palestina, Israel sampai menggunakan bom kimia (fosfor), meski penggunaan bom itu dilarang dalam Konvensi Jenewa.
”Ketika operasi ini berakhir nanti, tak akan ada lagi bangunan Hamas yang masih berdiri di Gaza,” janji salah satu pemimpin Operasi Cast Lead Israel yang juga Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Dan Harel, sehari sebelum serangan maha dahsyat ke Jalur Gaza (26/12/2008). Ia tidak bercanda. Hari keempat setelah ribuan rudal pesawat tempur F-15 dan F-16 serta helikopter CH-53 merobek langit Jalur Gaza, mereka menghajar segala yang ‘berbau’ Hamas.
Tidak peduli kantor polisi, kementerian dalam negeri, masjid, sekolah dan universitas. Militer Israel menggempur wilayah Gaza lebih dari 2.300 serangan udara. Rata-rata 128 serangan per hari.
Kerugian materi di Jalur Gaza mencapai Rp 22,6 triliun. Sedangkan korban jiwa dari pihak Palestina mencapai 1.300 orang tewas dan 5.300 orang terluka. Sekitar 400 orang yang tewas adalah pejuang Hamas, 167 polisi, dan 700 warga sipil. Sementara pihak Israel tercatat 13 orang tewas dan 317 orang terluka. Sepuluh di antaranya adalah tentara dan 3 warga sipil. Sedangkan yang terluka 233 tentara dan 84 warga sipil.
Pembunuhan terhadap warga sipil jelas disengaja. Tentara Israel pernah mengumpulkan 110 warga sipil – yang separuhnya terdiri dari anak-anak – ke dalam sebuah rumah, lalu ditembaki. Sedikitnya 30 orang gugur. “Salah satu insiden yang paling mengerikan sejak operasi dimulai,” komentar kantor Urusan Kemanusiaan PBB (OSCHA) tentang kekejian itu. OSCHA juga melansir, pasukan Israel sempat melarang tim medis mengevakuasi dan menolong korban. Tim Sabit Merah dan Palang Merah Internasional juga mengalami hal serupa.
Selasa, (5/1) rudal Israel jatuh tepat di depan sebuah sekolah PBB di kamp pengungsi Jabaliya. Sekolah yang selama serangan Israel menjadi tempat berlindung itu hancur dan 40 anak di dalamnya tewas. Padahal, menurut seorang pejabat Unicef, bendera dan tulisan organisasi itu tak mungkin luput dari penglihatan. “Badan perwakilan PBB memang kerap menjadi sasaran tembak Pasukan Pertahanan Israel (IDF),” katanya. Israel juga menyerang konvoi badan PBB untuk urusan pengungsi, UNRWA, ketika membawa bantuan kemanusiaan dari Erez ke Gaza.
Meski terlambat, pada hari ke-14 serangan, Dewan Keamanan PBB melahirkan Resolusi PBB Nomor 1860, yang ‘menghimbau’ Israel menghentikan serangannya. Ironisnya, resolusi ini terasa cukup istimewa karena tidak dibarengi dengan sanksi apapun. King maker ‘kemandulan’ resolusi itu adalah Amerika dengan sikap abstain saat 13 anggota Dewan Keamanan lainnya menyetujui.
Angin pun berhembus untuk Israel. Perdana Menteri Ehud Olmert menyatakan, ”Israel tak pernah menyetujui setiap pengaruh luar mana pun untuk memutuskan hak membela rakyatnya.” Hamas juga menolak resolusi itu. ”Kami tidak diajak berunding dan mereka tak mempertimbangkan misi dan kepentingan rakyat kami,” tegas Ayman Taha, juru bicara Hamas di Gaza.
Perang tidak seimbang ini jelas merontokkan wibawa PBB dan menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan. Lebih 1,5 juta warga Palestina sedang kekurangan makanan, obat-obatan, air bersih dan tempat tinggal. Meski gencatan senjata tengah berlangsung, bukan tidak mungkin Israel kembali membabi buta membantai warga Palestina yang tidak berdaya itu. arya dari berbagai sumber
