ZAMAN KEEMASAN
Syafiq A. Mughni
Matan, Maret 2009
Seribu tahun lalu umat Islam mejadi mercusuar peradaban dunia. Di tengah kegelapan bangsa-bangsa dunia, umat Islam menunjukkan jati dirinya sebagai umat yang termaju. Ketika jalan-jalan di Prancis dan London masih becek akibat gerimis, kota-kota Islam, seperti Baghdad, Kairo dan Kordoba, sudah terang benderang di malam hari dan jalan-jalan tertata rapi dan bersih. Ketika para Pangeran di Eropa masih belajar menulis namanya, ilmuwan-ilmuwan Muslim sudah menghasilkan ribuan karya di pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Di Kota Kordoba (Andalusia), ada 80 madrasah, di samping 18 perpustakaan, yang salah satunya memiliki koleksi tidak kurang dari 400.000 buku. Itu belum yang di Baghdad dan Kairo.
Banyaknya karya yang lahir pada zaman keemasan itu bisa dibayangkan dari data-data yang ada. Misalnya Abu Ya’la ibn al-Farra’, seorang alim bermadzhab Hanbali yang hidup pada abad ke-12 di Baghdad. Dari tabaqat (biographical dictionary, kamus riwayat hidup) bisa diketahui bahwa ia menulis hampir seratus buku, sekitar 80% bisa diketahui judulnya. Yang 20% tidak diketahui. Dari 80% itu, hanya sekitar 15% yang terselamatkan sampai sekarang. Ini bisa diketahui dari karya Carl Brockelman, Geschichter der Arabischen Literatuur, dan karya Fuad Sezgin, Geschischte des Arabischen Schrifttums. Sayang dua buku itu berbahasa Jerman, sehingga sulit ditemukan dalam perpustakaan di negara kita. 
Gambaran itu menunjukkan betapa banyaknya karya yang hilang. Seandainya buku-buku yang pernah ditulis oleh sarjana-sarjana Muslim itu terselamatkan semuanya, dunia akan semakin mengagumi jasa umat Islam dalam pembangunan peradaban dunia. Dalam situasi yang terbatas, belum ada listrik, belum ada mesin ketik, apalagi komputer, belum ada kertas, mereka bisa menghasilkan karya tulis sebesar itu.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya zaman keemasan Islam itu. Pertama, penguasa yang bijak dan berminat terhadap ilmu. Marwan bin Hakam, khalifah Amawiyyah, memerintahkan ilmuwan untuk melacak naskah-naskah kuno warisan Yunani dan Romawi. Harun al-Rasyid, khalifah Abbasiyyah, mengeluarkan dana besar untuk meneruskan pelacakan itu di berbagai penjuru dunia Islam, khususnya perpustakaan kuno di Iskandariyah (Mesir), Antioch (Syria) dan Jundisapur (Iran). Para penguasa juga menjadi patron ilmuwan. Mereka mengangkat ilmuwan untuk mengembangkan karyanya dengan gaji besar, dan menjadikan istana mereka sebagai tempat halaqah yang menghadirkan ilmuwan-ilmuwan di daerah sekitar.
Kedua, keterbukaan. Banyak sarjana Muslim belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen tentang ilmu pengetahuan, teologi dan bahasa tanpa ada hambatan psikologis. Sebaliknya, orang-orang Yahudi, Kristen dan Majusi juga belajar dari sarjana-sarjana Muslim tanpa ada perasaan inferior (rendah diri). Joel Kraemer dalam bukunya Humanism in the Renaissance of Islam meneliti dengan cermat dinamika intelektual lintas agama dan budaya pada zaman Abbasiyah. Budaya jadal (debat) dan munadharah (tukar pikiran) berkembang bagai jamur di musim hujan. Kitab-kitab yang bernuansa naqd (kritik) dan radd (bantahan) adalah pemandangan yang biasa didapatkan di perpustakaan-perpustakaan dan toko-toko buku.
Sekalipun kadang-kadang terdapat ketegangan sektarian, tetapi itu muncul di tingkat massa. Madrasah dan masjid menemukan karakternya untuk mengembangkan ilmu-ilmu agama, seperti al-Qur’an, hadits dan fiqh. Sedangkan perpustakaan menjadi media transformasi filsafat, teologi, matematika dan lain-lain. Rumah sakit menjadi tempat pengembangan ilmu kedokateran. Observatorium menjadi arena pengembangan Ilmu Falak.
Kita perlu belajar dari masa lampau. Kejayaan tidak bisa dilepas dari kemajuan ilmu pengetahuan. Knowlwdge is power (ilmu adalah kekuasaan). Jika ingin berjaya, umat Islam harus unggul dalam ilmu. Keunggulan itu tidak mungkin ada tanpa minat baca. Menurut hasil penelitian, kemajuan suatu bangsa berkait dengan tingkat minat baca. Karena itu, kita harus berjuang meningkatkan minat baca umat kita. Sayangnya kita masih berada pada tradisi lesan (oral tradition), belum tradisi tulis (literate tradition).
