yeeeeeeee…. BLOGKU BISA DIBUKA LAGI.,. TERIMA KASIH WORDPRESS :D :D :D

•November 25, 2009 • 1 Komentar

Berbangsa Bukan Sekedar Belajar

•Februari 27, 2009 • 3 Komentar

Oleh Arya Wanda Wirayuda

“Yang kini melumpuhkan aktivisme bukan semprotan gas air mata Brimob, tapi semprotan parfum Paris.” (Ariel Heryanto dalam Lifestyle Ecstasy, 2005)

Barangkali kalimat itu tepat menggambarkan sebagian besar aktivitas mahasiswa pasca reformasi. Tidak ada lagi cemoohan rutin terhadap kebijakan negara yang salah, hingga minimya peminat untuk berdiskusi tentang kesusahan masyarakat. Shopping ke mall, dugem, menjadi pecandu seks bebas dan narkoba, adalah perilaku yang sudah dianggap halal bagi sebagian mahasiswa. Jika sudah demikian, tulang punggung masa depan bangsa terancam mengalami kerapuhan.
Mahasiswa termasuk ke dalam golongan sosial yang memiliki potensi melakukan perubahan-perubahan fundamental di dalam kehidupan berbangsa. Sebab, ilmu pengetahuan yang didapatkan di bangku kuliah, merupakan bekal utama merumuskan strategi perubahan. Seseorang yang belajar di perguruan tinggi disebut sebagai mahasiswa. Maha berarti besar, sedangkan siswa diasosiasikan sebagai pelajar yang tercatat dalam institusi pendidikan formal.
Dalam sejarah, bentukan istilah ini bermula ketika masyarakat menempatkan secara sosial kedudukan mahasiswa lebih tinggi daripada hanya sekedar siswa. Dengan begitu, mereka dianggap dan tentunya juga dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih, supaya dapat membantu kesulitan-kesulitan masyarakat. Sayang, kenyataannya cita-cita mulia tersebut hampir berada di ujung tanduk, lantaran hampir sebagian besar mahasiswa menjadi penganut aliran konsumerisme dan pragmatisme.
Mahasiswa kerap mempersepsikan kampus sebagai batu loncatan untuk meraih kesejahteraan dan kekayaan. Masuk ke perguruan tinggi ternama, mendapat nilai bagus dan lulus cepat, supaya segera mendapat pekerjaan adalah impian. Tidak heran, cara-cara instan untuk berproses menjadi mahasiswa, adalah prilaku jauh dari yang diharapkan. Bersenang-senang dengan keegoisan pribadi; mendapat nilai “A” meski diperoleh dari belajar hasil foto kopi catatan teman; membebek dengan penjelasan dosen tanpa mau “bersubversif” ria dengan membaca buku, menjadi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.
Sejenak jika kita mengintip bagaimana dunia organisasi mahasiswa kini juga jauh dari harapan. Banyak organisasi mahasiswa internal kampus cenderung gemar mengadakan berbagai kegiatan, namun justru menyeret aktivitas mahasiswa hanya mengedepankan kerapian teknis pelaksanaan. Kegiatan tersebut untuk kepentingan pengembangan diri. Dan, pengembangan diri hanya diorientasikan kepada kemampuan individu agar nantinya dapat “dijual” pada lembaga-lembaga penyedia lapangan pekerjaan. Akibatnya, perdebatan kritis soal bagaimana ikut terlibat memikirkan permasalahan bangsa dan negara, kerap dianggap tidak relevan. Proses penghayatan tentang makna hakiki pendidikan dan pengembangan, teredusir dengan gaya berpikir yang hanya didasarkan kegunaan praktis.
Begitupula dengan nasib organisasi pergerakan mahasiswa ekstra universitas yang tidak kalah dahsyat mengalami perubahan. Sarat kepentingan dan ikut andil dalam memperkuat suksesi kepemimpinan nasional adalah keniscayaan. Sayang, dengan bekal pengalaman puluhan tahun, sebagian organisasi pergerakan kini sudah “kegemukan”, sehingga kerap sulit bergerak progresif–revolusioner dan cenderung membebek pada kepentingan sesaat. Para alumni yang besar dan tersebar di berbagai bidang, baik di lembaga pemerintahan, profesional hingga swasta, menjadikan mereka tidak lagi kritis lantaran jaminan atas pekerjaan sudah di depan mata. Tidak jarang kader-kader organisasi pergerakan mahasiswa menjadi tumbal politik para alumninya. Kejadian seperti ini juga belum menghitung berapa banyak jumlah kader yang keranjingan mencari uang atau “proyekan”, dan enggan untuk berpikir dan membincangkan persoalan sosial berikut memperbarui konsep gerakan yang kurang efektif.
Coba bayangkan ketika Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka ketika masih menjadi pelajar atau mahasiswa. Tentu itu sangat berbeda dengan semangat generasi mahasiswa masa kini yang sarat dengan budaya konsumerisme dan pragmatisme. Rela melanglang buana tanpa kemakmuran dan kenyamanan adalah pilihan bagi para asketis-revolusioner untuk memperjuangkan bangsa dari ketertindasan. Atau gagasan Mohammad Yunus dari Bangladesh, penerima nobel perdamaian tahun 2006. Meski sejak mahasiswa dididik dengan pandangan kapitalisme, tetapi berhasil menelurkan gagasan merubah persepsi dunia bahwa nafsu menumpuk kekayaan sebenarnya dapat pula mengangkat kemiskinan masyarakat.
Setiap orang bebas mencari bentuk keteladanan. Figur-figur diatas adalah pilihan. Namun pilihan atas keteladanan yang relevan dengan kebutuhan adalah hal yang utama. Kebutuhan bukan hanya beradasar nilai-nilai kegunaan praktis, tetapi juga beradasarkan nilai-nilai kebenaran. Disinilah letak dimana kebenaran wajib dilaksanakan setiap orang, tidak terkecuali mahasiswa. Jika sudah diberi label “maha” (besar) maka semestinya juga mempunyai kesadaran ber-“dharma” (kewajiban) yang besar pula.

Maha dan dharma
Kewajiban dirumuskan berdasarkan nilai kebenaran. Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan adalah firman bagi kewajiban. Meski tidak ada lagi desingan peluru penjajah sekaligus gerakan kapitalisme semakin lincah mempermainkan peristiwa, maka apapun bentuknya selayaknya kita sadar bahwa segala yang diperbuat musti harus menjunjung tinggi hakikat kebenaran terhadap kemanusiaan. Dengan begitu, nilai-nilai kemanusiaan bukan hanya berlaku untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang tua dan masyarakat, dengan berupaya me-up to date kualitas tanpa menindas atau bahkan memberikan ruang orang lain terperosok ke dalam jurang kesengsaraan.
Berorganisasi dan mendapat pendidikan yang lebih baik, perlu mendapat pondasi berpikir tentang nilai kebenaran terhadap kemanusiaan. Disinilah letak pragmatisme intelektual semestinya tidak jadi pertimbangan utama, karena hanya memicu terjadinya penindasan dan memperparah krisis solidaritas. Dalam memandang pragmatisme, Jacques Maritain dalam bukunya Pendidikan Berada di Simpang Jalan (1943) mengingatkan “Adalah sebuah penghinaan mendefinisikan pemikiran manusia sebagai sebuah organ untuk menjawab berbagai macam rangsangan atas situasi lingkungan nyata. Terminologi seperti ini hanya tepat untuk menggambarkan pengetahuan dan reaksi binatang, sehingga berpikir secara persis dengan definisi ini mengukuhkan cara berpikir khas untuk binatang tanpa rasio”.
Konsumerisme dan pragmatisme yang melanda mahasiswa sungguh tidak relevan di tengah masyarakat yang menanti sumbang sih mereka untuk membantunya bangkit dari kemiskinan. Sungguh ironis karena subsidi mahasiswa berasal dari pajak rakyat yang bercucuran keringat membanting tulang, ternyata hanya digunakan berleha-leha. Karena itu, sudah seharusnya segala yang dienyam di bangku kuliah memiliki kontribusi pada masyarakat. Disinilah letak dimana rasa keadilan dan kemanusiaan mahasiswa diuji kesediaannya berbagi dengan realitas sosial.
Di samping itu, sudah sepantasnya kita mendeklarasikan diri bahwa berfoya-foya adalah haram hukumnya. Belajar untuk kepentingan diri sendiri adalah tindakan yang patut dicela semua orang. Perubahan terhadap diri sendiri seperti ini lebih penting, baru kemudian berbicara tentang mahasiswa sebagai agen perubahan (agen of change) dan kekuatan moral (moral force) bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika masih sadar berbangsa, sebagai mahasiswa bukanlah sekedar belajar dan bersenang-senang. Berbangsa adalah sikap kepedulian kita terhadap satu sama lain. Semoga di kemudian hari yang suka membaca buku, berorganisasi, bermain musik, mendapat nilai “A” dan lulus cum laude, tidak hanya berharap untuk menumpuk kebahagiaan pribadi semata namun juga demi perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara agar lebih baik. “Tidak harus kaya, cukup sederhana” seru Frans Magnis Suseno (2007), mengingatkan kita bagaimana pentingnya rasa empati terhadap orang lain. Bagaimana dengan kita sebagai mahasiswa?
dimuat di Tabloid “Stanza” waktu masih mahasiswa

Dengan Unicef

•Februari 11, 2009 • 1 Komentar

p1010066Pengalaman menyenangkan ketika penulis bertemu dengan Mr. Stuart Weston dari UNCIEF dan World Bank di Universitas Muhammadiyah Malang. Kami berbincang-bincang seputar pendidikan, krisis ekonomi global, guyonan tentang karakter masing-masing negara dan sebagainya.
Satu hal, tinggi badanku ternyata lebih daripadanya.
😀

Akhirnya Indonesia Punya Atlas Nasional Resmi

•Februari 9, 2009 • 1 Komentar

Kompas, 5 Februari 2009

JAKARTA, KAMIS – Setelah enam dasawarsa semenjak Indonesia merdeka akhirnya Indonesia memiliki Atlas Nasional yang mengandung informasi resmi tentang Indonesia untuk pertama kalinya.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), R.W. Matindas, sebelumnya Indonesia hanya memiliki Atlas Hindia Belanda yang merupakan hasil peninggalan dari masa pemerintah kolonial Belanda yang dibuat pada tahun 1938. Hal tersebut disampaikannya ketika membuka acara peluncuran atlas nasional Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta (5/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan, atlas nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai media promosi tentang Indonesia dan media pembelajaran. “Nantinya kita akan meluncurkan dua jenis atlas nasional ini.Selain kita akan meluncurkan dalam bentuk buku tercetak, kita juga akan meluncurkannya dalam bentuk web Atlas Nasional Indonesia yang dapat diakses melalui internet untuk mempermudah akses sehingga manfaat atlas ini sebagai media promosi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik” jelas Matindas.

Atlas nasional ini nantinya akan terdiri dari tiga volume. “Kita bersama-sama dengan pihak-pihak yang terkait lainnya akan merampungkan dua volume lagi yang belum selesai.Mudah-mudahan kita akan menyelesaikannya pada tahun 2010 nanti,” ujar Matindas.

Atlas nasional ini dapat diperoleh publik melalui Pusat Jasa dan Informasi Bakosurtanal.

BUNG HATTA (1957): MINYAK DAN AIR TIDAK BISA BERCAMPUR

•Februari 1, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oil and Water Do Not Mix (1957)
By Hatta

This excerpt comes from “Assessing Bung Karrno’s Conception,” an
article comnunting on the President’s Conception speech of February 21, I957 (fig),
which was published as a supplement to the Djakarta
Daily Indonesia Baja, of March 5, 1957.

When we come to examine Bung Karno’s conception of a Gotong Rojong Cabinet, we are faced with an idea which is intrinsically good and idealistic but in practice cannot be put into effect. It could only be put into effect if all parties represented in parliament shared a common goal and if their political differences concerned only how this goal was to be attained.
But it is this common goal which is lacking. Especially as between the PKI on the one hand and the religious parties and some nationalist groups on the other, there is a difference of ideology and goals which is very fundamental, so that it is difficult to bring these two together in a Gotong Ro/ong Cabinet. We can leave for the moment the question of how portfolios would be divided between these mutually suspicious groups.bunghatta
Some will concede that there are indeed differences of principle between the PKI and the religious and nationalist parties as regards their ideology and view of life but go on to ask whether there are also such differences as regards goals. Yes, as regards goals, too, there are differences of principle! The aim of the religious and nationalist parties is the building-up of one national state, an Indonesian nation which will be just and prosperous. The PKI is basically part of an international movement which aims at world revolution. Its means of realizing this is by setting up proletarian dictatorships everywhere.
From time to time the Communists are allowed to adapt their tactics to accord with a particular situation, but fundamentally their struggle may not deviate from the principles laid down by Lenin which are known as democratic centralism. This means absolute obedience to the leader, and no right to disagree, in the interests of the whole. And this leader is, for Communists all over the world, Moscow.
For a Communist, the Soviet Union is the capital with which all his ideals can be realized, for the Communist struggle stands or falls by the success of the Soviet Union.
Because Soviet Russia is the pioneer of the realization of his ideals, the Communist puts the interests of its international political struggle first. In order to strengthen the position of the Soviet Union, he will, if necessary, sacrifice all other interests, including those of his own country’s freedom. This has been shown by the history of the last thirty years. As they see it, once Russia has achieved victory in its struggle against imperialism, the freedom of other countries will come of its own accord.
Absolute obedience to the leadership of Moscow is a fundamental law of life for a Communist. It is the foundation of the Communist movement’s strength. A person cannot be a real Communist unless he understands and can adapt himself to this iron discipline. So an Indonesian government in which Communists are participants can not carry out an independent foreign policy. Whatever his personal feelings may be, a Communist will be betraying his ideals if he does not put the interests of the Soviet Union first, even where these conflict with the interest of his own country.
Because of this, Bung Karno’s efforts to bring the PKI and the religious and nationalist parties together in a cabinet must fail. It is like trying to mix oil and water. There are, indeed, some among us, opportunists, who hope that the PKI can be made into a Titoist communist movement and argue that this could be done by bringing it into the cabinet to participate in carrying out national policies, including our independent and active foreign policy.
That possibility is not reasonable! The PKI will continue to take Moscow as its guide, will continue to hold fast to the fundamentals of Leninism and Stalinism. Quite apart from considerations of ideology, there is no advantage for the PKI in becoming a Titoist communist organization, a body standing by itself and competing with other parties, without any ties to international communism. This would only weaken it. The possibility does not exist, especially in view of Moscow’s present position of returning to the centralist principles of Stalin.
Bung Karno is afraid that a movement such as the PKI, which obtained six million votes in the recent elections, cannot just be left to be in the opposition. Quite apart from the question of what value one places on those six million votes, what are we to do if the groups which obtained more than three times as many votes as the PKI are unwilling to accept the PKI? To force them to accept it would sharpen the conflict and take us further away from our ideals of national peace and national unity.
But what is wrong with the PKI’s sitting in parliament as an opposition party? A good democratic government consists of government and opposition. The government acts and the opposition acts as a check on it. If the PKI acts as a good and firm opposition in parliament and does not merely obstruct and make trouble, it can influence the course of government and turn it in a favorable direction. It can prevent corruption in the government parties and so help to raise the present low level of political morality. In this way the goverment parties will be forced to give proper attention to the improvement of the lot of the common people.
Only a good and responsible opposition, one with a sense of ressponsibility for the welfare of the government and the people can contribute to the healthy development of democracy, which is parently struggling to survive.

siapa capres favorit?

•Januari 21, 2009 • 5 Komentar

sprint2009

Tokoh-tokoh politik kian bermanuver. Dari yang sudah uzur—alias membosankan—hingga yang masih kinyis-kinyis, siap beradu dalam perlombaan pemilihan presiden 2009 besok.
Siapa yang menang?
Tentu siapa yang kuat. Bukan hanya kuat mental—karena bakal menghadapi tekanan politik bahkan intimidasi, tetapi harus kuat modal juga. Nah, kita tinggal menyimak, dan tentu harus cerdas politik untuk memilih siapa pemimpin bangsa Indonesia kita yang tercinta ini.
Merdeka!!! –arya wanda wirayuda

spirit carries on

•Maret 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lirik dan Lagu ini yang paling aku suka..
by John Petrucci (song writer and Guitarist of Dream Theater)

Where did we come from? | Why are we here? | Where do we go when we die? | What lies beyond | And what lay before? | Is anything certain in life? |

They say, life is too short, | The here and the now | And youre only given one shot | But could there be more, | Have I lived before, | Or could this be all that weve got? |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

I used to be frightened of dying | I used to think death was the end | But that was before | Im not scared anymore | I know that my soul will transcend |

I may never find all the answers | I may never understand why | I may never prove | What I know to be true | But I know that I still have to try |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

Move on, be brave | Dont weep at my grave | Because I am no longer here | But please never let | Your memory of me disappear |

Safe in the light that surrounds me | Free of the fear and the pain | My questioning mind | Has helped me to find | The meaning in my life again | Victorias real | I finally feel | At peace with the girl in my dreams | And now that Im here | Its perfectly clear | I found out what all of this means |

If I die tomorrow | Id be allright | Because I believe | That after were gone | The spirit carries on |

Abu Nawas dalam Lailatul Qadar

•Maret 3, 2009 • 5 Komentar

abu-nawasHampir semua orang mengenal nama Abu Nawas. Namun di negeri kita, sosok ini telanjur dianggap sebagai pelawak. Mungkin akibat pengaruh buku “Hikayat Abu Nawas” saduran Nur Sutan Iskandar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi bacaan wajib murid-murid sekolah sejak tahun 1930-an hingga 1950-an.
Salah satu taman kota, “Taman Abu Nawas” di Baghdad Irak dihiasi monumen dinding dengan relief cerita Abu Nawas yang hidup merakyat dan berperilaku lucu. Monumen sejenis dengan tema cerita Abu Nawas banyak dijumpai di taman-taman kota di Baghdad dan kota lainnya diIrak
Padahal Abu Nawas (nama sebenarnya Abu Hani Muhammad bin Hakami, lahir di Ahwaz, Persia, tahun 735, dan meninggal di Bagdhad, tahun 810) adalah seorang sastrawan besar dalam khazanah sastra Arab abad Pertengahan. Bahkan sastrawan terbesar pada zaman kekuasaan Sultan Harun al Rasyid al Abassi, yang menjadi khalifah Dinasti Abasiyah tahun 786-809.
Memang, karena kepiawaiannya di bidang bahasa dan sastra Arab, Abu Nawas banyak menggubah sajak-sajak bercorak lelucon dan senda-gurau (mujuniyat). Ia juga sangat ahli merangkai syair tentang cinta dan kecantikan wanita (gazal), pujian terhadap seseorang (madah), bahkan sindiran halus namun tajam (hija). Dalam keadaan mabuk minum alkohol, sambil meracau tak karuan, ia menggubah puisi-puisi yang membangga-banggakan minuman keras, yang disebut puisi khumrayat.
Karena kelakuannya yang urakan, tak bermoral, bahkan kemungkina atheis, Abu Nawas tidak disukai kalangan agamawan dan yang menjunjung tinggi ahlak kesopanan.
Namun menjelang usia tua, ia berubah total. Menjadi tekun beribadah, rendah hati (tawadlu) dan jarang berbicara. Dari beberapa anekdot yang dihimpun para pengamat puisi Abu Nawas, terungkap, kesadaran Abu Nawas tergugah pada suatu malam ‘Qadar’ (Lai¬latulqadar). Ko¬non, ketika dalam keadaan ‘teler’, Abu Nawas didatangi seseorang tak dikenal, yang berkata : “Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikkan, yang merusak hidangan itu.
Sejak peristiwa ‘Malam Qadar’ itu, Abu Nawas mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biar tak jadi apa-apa, asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
Salah satu puisi karya terakhir Abu Nawas, sebuah puisi religius yang di negeri kita kerap dijadikan ‘pujian’ menjelang salat. Ilahi, lastulil firdausi ‘ala . Wa la aqwa alan naril jahimi. Fahabli taubatan waghfir dzunubi. Fainnaka ghafiru dzanbil adzimi (Ya Allah, tak pantas buatku surga. Tapi neraka, tak kuat aku akan siksanya. Maka atas segala dosa aku bertaubat. Karena ampunanmu lebih hebat).
Puisi-puisi Abu Nawas bersama kisah hidupnya, ditulis antara lain oleh Mustafa Abdur Razak, dalam buku Abu Nawas, Hayatuhu wa Sya’iruhu (1981). Dikenal dan digemari di dunia Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh A von Kremer: Diwan des Abu Nuwas Grossten Lyrischen Dichters der Araber (1806).
Matan, 2009

ZAMAN KEEMASAN

•Maret 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Syafiq A. Mughni
Matan, Maret 2009

Seribu tahun lalu umat Islam mejadi mercusuar peradaban dunia. Di tengah kegelapan bangsa-bangsa dunia, umat Islam menunjukkan jati dirinya sebagai umat yang termaju. Ketika jalan-jalan di Prancis dan London masih becek akibat gerimis, kota-kota Islam, seperti Baghdad, Kairo dan Kordoba, sudah terang benderang di malam hari dan jalan-jalan tertata rapi dan bersih. Ketika para Pangeran di Eropa masih belajar menulis namanya, ilmuwan-ilmuwan Muslim sudah menghasilkan ribuan karya di pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Di Kota Kordoba (Andalusia), ada 80 madrasah, di samping 18 perpustakaan, yang salah satunya memiliki koleksi tidak kurang dari 400.000 buku. Itu belum yang di Baghdad dan Kairo.
Banyaknya karya yang lahir pada zaman keemasan itu bisa dibayangkan dari data-data yang ada. Misalnya Abu Ya’la ibn al-Farra’, seorang alim bermadzhab Hanbali yang hidup pada abad ke-12 di Baghdad. Dari tabaqat (biographical dictionary, kamus riwayat hidup) bisa diketahui bahwa ia menulis hampir seratus buku, sekitar 80% bisa diketahui judulnya. Yang 20% tidak diketahui. Dari 80% itu, hanya sekitar 15% yang terselamatkan sampai sekarang. Ini bisa diketahui dari karya Carl Brockelman, Geschichter der Arabischen Literatuur, dan karya Fuad Sezgin, Geschischte des Arabischen Schrifttums. Sayang dua buku itu berbahasa Jerman, sehingga sulit ditemukan dalam perpustakaan di negara kita. risalah1
Gambaran itu menunjukkan betapa banyaknya karya yang hilang. Seandainya buku-buku yang pernah ditulis oleh sarjana-sarjana Muslim itu terselamatkan semuanya, dunia akan semakin mengagumi jasa umat Islam dalam pembangunan peradaban dunia. Dalam situasi yang terbatas, belum ada listrik, belum ada mesin ketik, apalagi komputer, belum ada kertas, mereka bisa menghasilkan karya tulis sebesar itu.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya zaman keemasan Islam itu. Pertama, penguasa yang bijak dan berminat terhadap ilmu. Marwan bin Hakam, khalifah Amawiyyah, memerintahkan ilmuwan untuk melacak naskah-naskah kuno warisan Yunani dan Romawi. Harun al-Rasyid, khalifah Abbasiyyah, mengeluarkan dana besar untuk meneruskan pelacakan itu di berbagai penjuru dunia Islam, khususnya perpustakaan kuno di Iskandariyah (Mesir), Antioch (Syria) dan Jundisapur (Iran). Para penguasa juga menjadi patron ilmuwan. Mereka mengangkat ilmuwan untuk mengembangkan karyanya dengan gaji besar, dan menjadikan istana mereka sebagai tempat halaqah yang menghadirkan ilmuwan-ilmuwan di daerah sekitar.
Kedua, keterbukaan. Banyak sarjana Muslim belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen tentang ilmu pengetahuan, teologi dan bahasa tanpa ada hambatan psikologis. Sebaliknya, orang-orang Yahudi, Kristen dan Majusi juga belajar dari sarjana-sarjana Muslim tanpa ada perasaan inferior (rendah diri). Joel Kraemer dalam bukunya Humanism in the Renaissance of Islam meneliti dengan cermat dinamika intelektual lintas agama dan budaya pada zaman Abbasiyah. Budaya jadal (debat) dan munadharah (tukar pikiran) berkembang bagai jamur di musim hujan. Kitab-kitab yang bernuansa naqd (kritik) dan radd (bantahan) adalah pemandangan yang biasa didapatkan di perpustakaan-perpustakaan dan toko-toko buku.
Sekalipun kadang-kadang terdapat ketegangan sektarian, tetapi itu muncul di tingkat massa. Madrasah dan masjid menemukan karakternya untuk mengembangkan ilmu-ilmu agama, seperti al-Qur’an, hadits dan fiqh. Sedangkan perpustakaan menjadi media transformasi filsafat, teologi, matematika dan lain-lain. Rumah sakit menjadi tempat pengembangan ilmu kedokateran. Observatorium menjadi arena pengembangan Ilmu Falak.
Kita perlu belajar dari masa lampau. Kejayaan tidak bisa dilepas dari kemajuan ilmu pengetahuan. Knowlwdge is power (ilmu adalah kekuasaan). Jika ingin berjaya, umat Islam harus unggul dalam ilmu. Keunggulan itu tidak mungkin ada tanpa minat baca. Menurut hasil penelitian, kemajuan suatu bangsa berkait dengan tingkat minat baca. Karena itu, kita harus berjuang meningkatkan minat baca umat kita. Sayangnya kita masih berada pada tradisi lesan (oral tradition), belum tradisi tulis (literate tradition).

Negara Gemar Sejarah

•Maret 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jalan panjang upaya penulisan sejarah yang jauh dari intervensi penguasa tampaknya masih terjal. Belum usai penulisan Sejarah Indonesia, pengganti dari “kitab ajaib” Sejarah Nasional Indonesia versi Orba, kini masyarakat terancam dihadapkan pada proses pencerahan delusif karena cerita sejarah kembali dimonopoli.
Penarikan buku pelajaran siswa yang mengaburkan bahkan meniadakan PKI berperan di dalam peristiwa G 30 S, dilakukan di sejumlah daerah. Kebijakan ini adalah wujud pengabulan keinginan dari beberapa elemen masyarakat yang anti komunis. Namun, pemerintah nampaknya bebal kuping meski mendapat kritikan tajam, baik dari berbagai sejarawan, saksi sejarah, pemerhati sejarah dan lainnya agar tidak “meresmikannya”.
Dalam sejarah historiografi Indonesia, hal itu bukanlah barang baru lagi. Setiap pergantian rezim penulisan sejarah selalu diikuti serangkaian kritik atau bahkan sampai perubahan substansi. Lihat saja penulisan sejarah di masa Orde Lama yang digunakan untuk mengindoktrinasi nasionalisme sebagai reaksi atas kolonialisme. Begitupula ketika pada masa Orde Baru yang ruang gerak penulisan sejarah (historiografi) secara bebas hampir tidak pernah ditemui. Nasionalisme, integrasi dan stabilitas dimaknai secara sempit dan parsial saat itu.
Namun, setelah beberapa tahun lalu di awal reformasi kita dapat bernapas lega menikmati historiografi secara variatif di berbagai institusi, kini historiografi mulai digiring pada permasalahan legitimasi ketimbang ilmu. Penarikan besar-besaran buku pelajaran yang “anti” PKI di sejumlah daerah oleh Kejari adalah bukti dimana negara belum bisa memosisikan secara arif dengan warisan masa lampau.
Mungkin pemerintah terinspirasi perumpamaan Samuel Butler (1835-1902) tentang kedudukan sejarawan yang bisa melampaui kekuasaan Tuhan karena dapat merubah (cerita) masa lalu. Ketika masa lalu memiliki otoritas dalam membentuk karakter bangsa di masa depan, tak jarang negara tergiur untuk mengintervensinya. Alhasil, seperangkat sistem dibidik demi memaksakan logikanya di dalam penulisan sejarah. Tragisnya, para sejarawan pun kerap menjadi “rezim” lain dalam mengamini dominasi negara karena terbatasnya dana penelitian, ingin melesatkan karir, dan alasan-alasan pragmatis lainnya.

Negara inspiratif
Untuk meracik kepentingan negara dan perkembangan historiografi, barangkali kita perlu belajar dari negara-negara lain. Misalnya, di Amerika Serikat tidak terdapat bentuk pengesahan “kitab suci” sejarah nasional (The National of United States). Akan tetapi, setiap lembaga pendidikanlah yang mempunyai otonomi untuk mengajarkan dan memperdebatkan masa lalu secara bebas. Historiografi mereka pun lebih diletakkan pada gerak sejarah Eropa atau “Pengalaman Barat” (The Western Experience).
Bahkan, di India “kitab” yang dianggap paling berwibawa adalah The Cambridge History of India. Negara yang sempat bersama Indonesia mempunyai pengalaman kolonialisme ini, menulis dan menerbitkan sejarah non “resmi”-nya di bawah komisi sebuah penerbitan prestisius yang memiliki asosiasi dengan universitas di negara mantan penjajahnya (Inggris). Merefleksikan apa yang dilakukan India dan AS, terbukti mereka berhasil menjaga integrasi bangsa berikut menanamkan nasionalisme melalui penulisan sejarah.
Meski tahun 1965-an di Indonesia merupakan masa-masa yang rumit diurai kebenarannya, sayangnya, negara gagal dalam menanamkan kesadaran sejarah bagi masyarakat. Sejarah tidak dimaknai sebagai pelajaran berharga tanpa menabur benih-benih kebencian. Perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap tampuk kekuasaan, baik struktural maupun kultural. Karena isu itu juga, cara pandang yang sempit seringkali menimbulkan perilaku destruktif pada masyarakat. Atas dasar isu komunisme, sikap vandalistis baik pro maupun kontra sampai sekarang masih dapat kita lihat muncul di kalangan ormas, OKP, bahkan parpol sekalipun.

Kesadaran sejarah
Negara sebenarnya dibutuhkan di dalam proses pemahaman sejarah yang menjunjung tinggi perbedaan yang diwariskan. Syaratnya, mereka cukup menjadi fasilitator dan stimulator bagi masyarakat agar memaknai sejarah secara arif. Taufik Abdullah (1995) menekankan, sejarah harus dihadapi dengan rasa tanpa dendam dan tanpa nostalgia dan dijadikan sebagai alat untuk memahami prilaku manusia dalam proses perubahan dan sebagai sumber kearifan. Dengan begitu, sejarah tidak diajarkan untuk mencari siapa pemenang dan siapa pecundang.
Menyambut Kurikulum Tingkat Satuan Kompetensi (KTSP) yang akan datang, prioritas yang perlu dilakukan di tingkatan sekolah adalah memperbaiki mutu guru sejarah yang selama ini dinomorduakan. Lebih baik lagi, jika mereka dapat menulis dan meneliti lebih komprehensif, terutama pada peristiwa tahun 1965. Sedangkan pemerintah hanya perlu memberikan aturan bagi para penerbit untuk menerbitkan buku pelajaran yang tidak mengkambinghitamkan.
Mengutip pendapat Bambang Purwanto Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!, 2006), G 30 S adalah identitas diri. Tapi siapa? Apakah PKI, Suharto, Militer, Sukarno, Amerika Serikat atau yang lainnya? Belum jelas! Karenanya sangat riskan ketika penulisan sejarah di setiap sekolah diharuskan untuk mengajak siswa untuk mencari siapa sebenarnya yang berperan di balik G 30 S.
Sentimen berlebihan terhadap komunis seyogyanya dihilangkan. Kalaupun Pancasila kita masih “sakti”, komunisme maupun paham-paham lain tidak perlu ditakutkan. Pemahaman sejarah yang bisa mengajak masyarakat agar dapat “bertarung” ide secara cerdas, elegan, dan tanpa sikap destruktif, itulah yang diperlukan bagi kemajuan bangsa. Kita berharap indonesia tidak lagi menjadi negara yang gemar mencampuri sejarah dan lebih sadar kegemarannya selama ini turut menyumbang terjadinya perpecahan.

Tuhan Telah Mati?

•Februari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jantung berdegup kencang. Hati terasa bergetar. Rintihan suara manusia lirih terdengar. Tak lama kemudian, satu persatu diantara mereka menangis, berteriak dan jatuh tersungkur memohon ampun kepada-Nya.
Sepotong gambaran diatas niscaya terjadi ketika puncak spiritualitas manusia tidak dapat dibendung. Tidak ada lagi kesombongan. Yang ada hanya suara tasbih dan pujian kepada Sang Maha Besar yang menciptakan alam semesta. Sadar atau tidak, sesungguhnya selama ini manusia hanya berjalan mengikuti alur yang telah ditentukaan-Nya.
Begitupula dengan para peserta Traing ESQ di Semarang tanggal 4-5 Februari 2008. Training yang diikuti lebih dari 400 Beswan dan alumni Beswan Djarum ini terlihat begitu berkesan. Mungkin tidak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa sesungguhnya kita adalah orang-orang yang bodoh, kecil dan tidak berdaya di hadapan-Nya. Tapi setelah dibombardir sederet serpihan informasi tentang kuasa Tuhan, hanya orang-orang yang telah dirahmatilah yang tak mampu menahan keharuan dan kesedihan, betapa kita dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu, rawan masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi, karena tidak menyadari betapa hebatnya Tuhan. Tuhan menciptakan jagad raya berikut isinya. Sampai mati, Tuhan akan terus mengatur jalan hidup kita. Segala potensi dalam diri manusia: raga, jiwa dan akal, sebelum dipergunakan untuk menciptakan realitas sosial, sesungguhnya diberikan hanya semata-mata menjadi alat untuk membaca dan memahami segala tanda kekuasaannya.
Kata siapa? Mungkin manusia “modern” bilang itu adalah kalimat usang, penyimpulan yang menyirakan kedangkalan berpikir dan sama sekali tidak rasional. Muncul ribuan tahun yang lampau ketika manusia belum mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk mengetahui rahasia hukum alam. Akhirnya, sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan telah mati. Ia hanya dihidupkan oleh hati tanpa berpikir. Ia hanya dibayangkan, dikhayalkan dan dipersepsikan, sehingga manusia itu mendapat kedamaian karena memang memang Ia adalah Sang Juru Selamat bagi segala kesulitan.
Diantara mereka juga ada yang menyatakan diri bahwa Tuhan adalah apologi bagi ketidakmampuan manusia dalam mengatasi permasalahan. Sehingga, tidak aneh Tuhan-Tuhan berceceran dimana-mana, tergantung pada manusia hendak menciptakan Tuhan seperti apa. Akhirnya, Tuhan pun berwujud aneh-aneh. Ada yang hanya dirasakan. Ada yang memakai jubah atau berjenggot. Ada yang berambut panjang. Ada yang botak. Bahkan ada yang hanya berupa gambar atau patung yang berbentuk selain manusia. Karena dianggap sebagai hal yang “janggal”, tidak aneh keberanian sejumlah manusia untuk memproklamirkan diri bahwa Tuhan tidak ada, menjadi bagian akhir dari proses pencarian Tuhan-Tuhan mereka yang tidak pernah dapat diterima dengan akal.
Namun, sebelum lebih jauh tulisan ini bukan bermaksud menjabarkan lebih dalam perdebatan buah renungan para pemikir tentang siapa Tuhan dan bagaimana Ia menampakkan diri-Nya. Tulisan ini lebih kepada bagaimana sebenarnya kita, sebagai mahasiswa, perlu juga merespon doktrinasi abadi soal Tuhan dan Agama, termasuk yang diperantarakan pada training ESQ dengan sungguh-sungguh.

Kontroversi Sang Khalik
Manusia adalah anak kandung dari semangat jaman. Manusia dilahirkan di tengah-tengah budaya dan kebiasaan tertentu. Keluarga dan lingkungan ikut membentuk karakter manusia itu dengan nilai-nilai (values) tertentu. Bisa jadi, mereka beragama karena mengikuti pula kebiasaan. Orang menjadi Islam karena keluarga dan lingkungan nya memang beragama Islam. Bahkan, bisa jadi pula orang yang tidak percaya agama atau hanya percaya kenikmatan dunia dapat memperoleh kebahagiaan hakiki dalam dirinya, juga karena arus budaya dan kebiasaan itu sendiri. Karena desakan dominasi nilai-nilai yang secara massif didoktrinkan pada diri manusia itu mampu membuat bangunan karakter, namun hanya manusia yang sadar peran akal budi dan hati mencoba keluar dari mainstream dengan kembali mempertanyakan kebenaran yang “katanya” absolut tersebut.
Muncul berbagai pandangan mengenai hal tersebut. Namun, menurut penulis ada beberapa pemahaman beragama yang perlu dicatat disini soal bagaimana metode yang bisa digunakan untuk memahami keabsahan agama dan budaya dengan perantaraan teks: kitab suci, hadits atau buah pikiran manusia yang lain yang dianggap sebagai “pelengkap” rasionalisasi dari dua hukum teratas tersebut. Pertama, kesadaran konstruktif-dekonstruktif. Penulis mengandaikan, bahwa pola berpikir seperti ini membantu manusia beragama melalui pemahaman utuh tentang isi dari agama yang dianut. Kondisi beragama karena dibesarkan pada lingkungan yang menganut agama tertentu, menjadi modal awal bagi manusia jika ingin mengikuti alur berpikir ini. Ketika hal ini telah menjadi keyakinan yang mengakar, manusia seyogyanya tidak takut atas pemahaman dari agama lain. Dengan demikian, sikap keterbukaan untuk memandang kebenaran orang lain dari diri kita sendiri, perlu dibalik logikanya dengan memandang bangunan kebenaran orang atau agama lain dari sudut pandang mereka pula. Pola berpikir ini, biasanya, lebih dapat memudahkan lahirnya sikap toleransi karena berupaya menghancurkan arogansi keagamaan satu sama lain.
Kedua, kesadaran kritis atas agama sebelum memasukinya. Sejarah membuktikan kesadaran seperti ini banyak dianut oleh sebagian umat manusia ketika melakukan proses pencarian Tuhan. Misalnya saja, orang Arab sebelum menganut Islam bertanya lebih dahulu, meski relatif dalam tingkatan yang berbeda, “benarkah ada Tuhan selain Allah?”. Jika mengikuti pola berpikir ini, setiap orang harus berani “kafir” terlebih dahulu, baru kemudian yakin dengan sepenuhnya, bahwa memang tidak ada yang bisa melebihi kebenaran agama yang dianutnya. Mengosongkan doktrin dalam dirinya, kemudian mengisi dengan keimanan dengan sebenar-benarnya.
Ketiga, kesadaran beragama yang diperoleh dengan penjelajahan menganut sejumlah agama. Proses pencerahan cara beragama seperti ini pernah dicontohkan oleh Karen Armstrong, penulis sejumlah buku seperti A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam; The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam; dan sederet karya lainnya. Mencari kebenaran hakiki melalui kesadaran kritis menganut sejumlah agama adalah jalan membangun pondasi keimanan lebih kokoh.
Namun, yang perlu dicatat bekal awal manusia atas tiga cara berpikir diatas adalah membuka diri dari segala pengetahuan, ilmu atau ilmu pengetahuan yang lahir dari berbagai golongan umat manusia. Dengan demikian, kesempurnaan agama hanya menjadi proses tanpa henti dilakukan. Manusia hanya bisa mendekati kesempurnaan, dan bukan menjadi sempurna. Dalam logika beragama, Islam misalnya, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Training ESQ yang diadakan PT Djarum untuk para Beswan dan alumninya, relatif mampu menjembatani cara berpikir seperti ini, meski dalam tingkat keutuhan yang beragam. Dahsyat sebab mampu menarik emosi peserta. Namun ada beberapa hal yang janggal, karena menurut penulis perlu didiskusikan atau mendapat keterangan lebih utuh lagi. Meski ada beberapa pertanyaan yang (mungkin) masih menggelayut di benak sejumlah peserta, setidaknya pelatihan ini tentu memberikan pengaruh yang relatif besar. Dan, dengan pelatihan selama dua hari bukan tidak mungkin hanya memberikan kesan instan secara emosional dan spiritual bagi para perserta. Selanjutnya, keimanan peserta dalam kehidupan sehari-hari itulah, yang menjadi ujian terberat bagi mereka untk dilakukan.
Semoga dengan bekal ilmu ini, berjalin sekelindan dengan sederet ilmu pengetahuan (science) dan pengetahuan (knowledge) yang telah dimiliki, mampu menghantarkan kita pada proses-proses penyempurnaan kita tanpa henti. Mengadi kepada Tuhan dengan upaya melakukan kesempurnaan tindakan adalah jalan kenscayaan untuk menghindari diri kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

*) Oleh Arya Wanda Wirayuda
Alumni Beswan Djarum DSO Surabaya
Manusia yang masih belajar untuk belajar
tulisan ini sebenarnya dikirim untuk majalah BestOnetapi tidak dimuat
mungkin terlalu ekstrem kali ya
hehe…